Kamis, 04 Oktober 2012

Harga Sayur Mayur Karo Tetap Muram


LINA ERLITNA. BERASTAGI. Para petani Karo mengeluhkan harga hasil panen sayur mayur yang belakangan ini tak kunjung memuaskan. “Silalap ergana la balik modal pé,” kata seorang petani yang terpaksa memborongkan (tanpa timbangan) hasil panen daun prei dari ladangnya di Pasar Berastagi sore tadi [Kamis 4/10] karena takut tak laku.
Ketidakseimbangan harga jual hasil panen dengan biaya yang dikeluarkan oleh petani untuk merawat tanamannya adalah masalah utama. Sebagaimana dituturkan oleh beberapa petani yang menjualkan hasil pertanian sayurnya di Pasar Berastagi kepada Sora Sirulo, serangan hama yang meningkat akhir-akhir ini mengakibatkan meningkatnya pula biaya perawatan tanaman, terutama untuk membeli obat-obatan pembasmi hama. Di pihak lain, harga jual hasil panen sayur tak pernah naik.
Berikut adalah beberapa harga sayuran yang sempat dicatat oleh Sora Sirulo di Pasar Tradisional Berastagi sore tadi: Daun Prei Rp. 2.000/ Kg, Daun Sop Rp. 1.500/ Kg, Tomat Rp. 3.000/ Kg, Wortel Rp. 3.000/ Kg, Kol Bulat Rp. 1.500/Kg dan Cabe Merah Rp. 8.000. Harga ini didasarkan pada transaksi antara verkoper dengan petani penjual di Pasar Berastagi. Harga tomat dan wortel memang agak melegakan karena ada sedikit peningkatan dari hari-hari sebelumnya. Namun, secara umum, harga hasil panen sayur-sayuran di Kabupaten Karo dirasakan oleh petani terlalu murah.
“Untuk mengembalikan modal bertani saja susah, apalagi untuk menghidupi keluarga,” kata seorang ibu petani dari Desa Merdeka (Kec. Merdeka).
Suasana muram di hati para petani sepertinya dirasakan oleh langit yang menyiramkan hujannya yang lebat sehingga bumi di Pasar Berastagi menjadi basah dan becek.

Ratusan Warga Hadang Pemagaran Lapangan Bola Tuntungan


Kami Akan Berjuang Hingga Tetes Darah Penghabisan

IMANUEL SITEPU. PANCURBATU. Ratusan warga Desa Tuntungan I (Kec. Pancurbatu) melakukan aksi terhadap pemagaran lapangan sepak bola yang terletak di desa itu [Rabu 03/10 sekira Pkl. 16.00 Wib]. Warga menolak pemagaran lapangan bola, karena lapangan bola tersebut sudah dijadikan sarana umum warga desa tersebut sejak 1960an.
Pantauan Sora Sirulo di lapangan menyebutkan, ratusan warga datang dengan aksi damai. Mereka meminta para pekerja menghentikan pemagaran lapangan bola tersebut. “Lapangan bola ini sudah menjadi sarana umum untuk warga desa sejak tahun 1960an seperti Shalat Idul Fitri, acara 17 Agustus dan kegiatan masyarakat lainnya. Kalau lapangan bola ini dipagar, kami mau ke mana melaksanakan kegiatan kepemudaan maupun kegiatan lainnya?” papar Kepala Desa Tuntungan I, Hari Amanu.

Hari menjelaskan, pihak PT Deli Country Club hanya memiliki Hak Guna Bangunan yang akan habis pada tanggal 12 April 2013. “Kita mengharapkan, apabila PT Deli Country Club ingin memperpanjang kembali HGBnya, pemerintah pusat bisa menyisihkan lahan sekitar 1,5 ha dari 10 ha lahan yang pernah keluar HGBnya sebagai fasilitas umum warga,” ujarnya. Selain itu, kata Hari, pihak PT Deli Country Club bisa memperpanjang HGB. Berarti, tanah tersebut masih hak penuhn pemerintah. "Untuk itu, kami berharap agar pemerintah mau memberikan lahan seluas 1,5 ha untuk kami warga masyarakat Tuntungan I sebab kami juga mempunyai hak,” ungkap Kades lagi.

Dalam aksi tersebut, Muspika plus Pancurbatu juga terlihat hadir di lapangan bola tersebut. Kepada Muspika Pancurbatu, warga meminta agar lapangan bola ini jangan dipagar karena di sinilah tempat warga melaksanakan kegiatan keagamaan, maupun kegiatan masyarakat yang lain. "Warga dari tahun ke tahun kalau melaksanakan Shalat Idul Fitri dan Idul Adha, upacara bendera Hari Kemerdekaan, maupun tempat olahraga pemuda, selalu di lapangan ini. Kalau lapangan ini dipagar, mau ke mana kami melaksanakan shalat ataupun kegiatan lainnya? Kepada bapak Muspika kami meminta tolong untuk menyampaikan aspirasi kami," ucap seorang ibu yang mewakili seluruh warga Desa kepada pihak Muspika.

Sementara itu, Sugeng yang mewakil pemuda desa itu mengungkapkan, lapangan ini adalah tempat berkumpulnya para pemuda melaksanakan olahraga maupun kegiatan positif lainnya. "Kalau lapangan ini dipagar mau kemana kami melakukan kegiatan? Kami akan memperjuangkan lapangan ini, hingga tetes darah penghabisan," tegasnya.

Menanggapi aspirasi warga tersebut, Kasie Trantib Kecamatan Pancurbatu Wakil Karo-karo yang mewakili Muspika Plus, meminta kepada kepala desa bersama perangkatnya untuk datang ke Kantor Camat untuk bermusyawarah membicarakan permasalahan ini agar tidak berlarut-larut. "Mari kita memusyawarahkan hal ini dan kepada para pekerja pemagaran lapangan bola ini agar berkoordinasi dengan pihak yang memerintahkan pengerjaan pemagaran agar terjadi komunikasi yang baik," terangnya.

Pemborong pengerjaan pemagaran lahan ini mengatakan tidak mengetahui tentang permasalahan lahan. "Saya tidak tahu tentang masalah lahan ini. Saya hanya bekerja sesuai dengan Surat Perintah Kerja (SPK) tertanggal 20 September 2012 yang diberikan PT Deli Country Club untuk melaksanakan pemagaran lahan ini yang luasnya sekitar 99.678 M2," terangnya.
Setelah mendengar penjelasan dari pihak Muspika, warga desa akhirnya membubarkan diri dengan tertib dan suasana tetap dalam keadaan kondusif.

Jadi Pelintasan Truk 3 Sumbu, Jalan Desa Timbanglawan Kupak-kapik


IMANUEL SITEPU. NAMORAMBE. Akibat ulah puluhan armada tronton (3 sumbu) setiap hari melintas lalu lalang dari lokasi Galian C Marihot Nainggolan, jalan menuju Desa Timbanglawan (Kec. Namorambe) menenjadi kupak kapik.
"Truk sepuluh roda itu sebenarnya tidak boleh melintasi desa kami karena kelas jalannya tidak sesuai. Akibatnya, jalan menuju desa kami mengalami kerusakan parah. Bahkan, saat ini, hampir di sepanjang jalan dari Desa Rampah, Timbanglawan, Batu Gemuk hingga menuju Desa Candirejo (Kec. Biru-biru) kondisinya berlubang," ujar Pa Tengok Sembiring (52) salah satu warga kepada Sora Sirulo [Rabu 3/10].
Dikatakan Pa Tengok, kondisi jalan menjadi lebih parah apabila turun hujan. Sejumlah ruas jalan tampak tergenang air. Pengguna jalan, terutama pengendara sepeda motor, harus ekstra hati-hati karena rawan terjadi kecelakaan. Demikian juga pada musin kemarau, debu beterbangan ke pemukiman warga di sepanjang jalan. Bukan hanya soal kondisi jalan, dia juga mengeluhkan keberadaan sekelompok orang yang melakukan pungutan liar (pungli).

 "Sebenarnya, sewaktu pengusaha Galian C masih menggunakan sebatas armada Dum Truk, warga sudah keberatan. Namun, beberapa bulan ini, keresahan warga makin menjadi-jadi akibat keberadaan armada tronton. Seluruh badan jalan sudah termakan truk raksasa itu," jelasnya. 

Senada juga dikemukakan oleh warga Pak Barus (43). "Saya menyayangkan kerusakan jalan yang terjadi saat ini. Kami telah menunggu lama untuk dapat merasakan kondisi jalan yang bagus. Akan tetapi, sudah 10 tahun kami menunggu, tapi jalan tak kunjung diperbaiki oleh Pemkab Deliserdang," ujarnya.

Lanjut dikatakan, dalam sehari, sekitar 25 sampai 30 armada Tronton Milik PT MAL (Mujur Artha Lampitha) yang disebut-sebut milik Ketua APPSU (Asiosiasi Pengusaha Pertambangan Sumatera Utara) Adi Nainggolan dengan beban tonase sekitar 12 hingga 20 ton melintasi jalan ini. Artinya, truk sepuluh roda yang dioperasikan sudah kelebihan berat atau melebihi Maksimum Sumbu Tekanan (MST).

"Saya berharap dari pihak pengusaha bisa memperbaiki kembali jalan yang rusak ini, karena kondisi seperti ini tentunya sangat mengganggu dan berbahaya. Demikian juga dengan Muspika Kecamatan Namorambe agar secepatnya melakukan penindakan. Bila tidak, warga akan melakukan pemblokiran jalan," pungkasnya.

Menyikapi hal itu, Camat Namorambe Hendra Wijaya ketika hendak dikonfirmasi oleh Sora sirulo melalui selularnya tidak berhasil. Nada dering masuk, tapi tidak ada jawaban.

Foto: Salah satu armada 3 sumbu milik ketua APPSU sedang sedang melintas di Desa Timbanglawan.

Pengusaha Toko Obat Dianiaya Iparnya


IMANUEL SITEPU. PANCURBATU. Keppe Malem Br Tarigan (33) warga Jl. Pembangunan No. 9A Desa Baru (Kec. Pancurbatu) menyesalkan kinerja Polsek Pancurbatu karena pelaku penganiayaan terhadap dirinya masih bebas berkeliaran hingga saat ini. Padahal, pengaduan ibu dua anak ini sudah lebih dari sebulan, namun kedua pelaku belum juga diringkus petugas.
Seperti dikatakan Keppe Br Tarigan kepada Sora Sirulo [Selasa 2/10 siang] di Mapolsek Pancurbatu.  Pelaku penganiayaan terhadap dirinya yang tidak lain adalah  abang iparnya sendiri bernama Gursing Brepi Gurusinga bersama istrinya Lestari Br Sebayang. Menurut pengusaha obat ini, pengeroyokan terhadap dirinya terjadi pada tanggal 1 September 2012 lalu sekira Pkl. 14.00 Wib.

”Saat itu aku berada di dalam toko obatku yang terletak di Pajak Pancurbatu. Tiba-tiba, mereka datang dan mengusir aku dari tempat aku berjualan itu. Karena itu sudah milikku bersama suamiku, aku pun bertahan. Mereka pun datang ke dalam dan langsung menyeret aku keluar. Sebelum aku jatuh, Gursing Brepi Gurusinga langsung menumbuk mataku yang sebelah kiri," ujar Keppe lagi.

Lanjut dikatakanya, akibatnya, diapun terjatuh dan tangan kanannyaterkilir. Begitu juga kakinya sebelah kanan terbentur hingga berdarah. Warga sekitar yang melihat penganiayaan itu langsung datang melerainya. Karena warga udah ramai mereka pun pergi begitu saja.Karena tak terima atas perlakuan itu, dia pun langsung mengadu ke Polsek Pancurbatu sesuai dengan laporan pengaduan Nomor : LP/441/VIIII/2012 SEKTA PC BATU tanggal 01 September 2012, persisnya sebulan lalu.

"Saya sangat sayangkan mengapa hingga kini pelakunya belum juga ditangkap. Pelaku juga kerab menerorku di siang hari saat aku berjualan. Bahkan, di malam harinya, rumahku pun sering dilempar orang tak dikenal. Kalau pelakunya belum ditangkap aku bersama anak dan suamiku tak bisa tenang karena selalu ketakutan dengan ancaman mereka,” kata Keppe mengakhiri.

Terkait masalah ini, Muslim Muis SH Ketua PUSHPA meminta kepada Kapolretsa Medan Kombes Monang Situmorang agar memanggil Kapolsek Pancurbatu. "Kita meminta agar Kapolresta sesegera mungkin memanggil Kapolsek Pancurbatu untuk sesegera mungkin menangkap pelakunya. Di negeri ini tak ada yang namanya manusia kebal hukum. Apalagi kalau korbannya terus diteror pelakunya, berarti Kapolsek tak perduli dengan laporan masarakat yang teraniaya itu. Untuk itu Kapolresta Medan harus menggaji ulang jabatan yang diemban Kapolsek,” ujar Muslim Muis.

Kapolsek Pancurbatu Kompol Darwin Sitepu PB saat dikonfirmasi wartawan terkait masalh ini mengatakan: "Tanya saja ke Kanit, ya. Aku lagi rapat di Polres,” ujar Darwin sambil mematikan HPnya. Namun saat ditanyakan ke Kanit Reskrim AKP Parulian Samosir, dia mengatakan: ”Kita sudah memeriksa kedua tersangka. Mereka tidak kita tahan karena pasangan suami istri ini memiliki 4 anak yang masih kecil-kecil. Meski penahanan kita tangguhkan, berkasnya kita lanjutkan,” ujar Parulian.

Foto: Keppe br Tarigan

Isu Bentrok, Puluhan Personil Jaga Kebun PTPN II


IMANUEL SITEPU. KUTALIMBARUPuluhan personil Samapta Polresta Medan bersama Polsek Kutalimbaru berjaga-jaga di lahan PTPN II Sei Semayang [Senin 1/10 pagi]. Pasalnya, terhendus kabar, kalau lahan tersebut akan dikuasai pihak perkebunan plat merah itu.
Informasi yang dihimpun Sora Sirulo di lapangan menyebutkan, pagi itu, puluhan personil Samapta Polresta Medan yang dipimpinWakapolresta Medan AKBP Pranyoto datang ke lokasi perkebunan PTPN II Sei Semayang karena  pihak perkebunan berencana melakukan okupasi terhadap lahan mereka. Warga yang mengetahui rencana pihak perkebunan hendak melakukan perlawanan. Takut terjadi hal-hal yang tidak dinginkan, petugas dari Polresta Medan dan Polsek Kutalimbaru langsung menurunkan puluhan personilnya. Bahkan, petugas pun menyisir sejumlah tempat yang diduga sebagai titik pertemuan para warga. Namun, tak seorang pun ditemukan petugas. Bahkan, pihak perkebunan juga tidak ada melakukan okupasi.

Wakapolresta Medan AKBP Pranyoto didampingi Kapolsek Kutalimbaru AKP Robinson Surbakti saat dikonfirmasi mengatkan, mereka hanyamelakukan pengamanan. ”Kita hanya menjaga saja. Karena kita dapat info kalau pihak perkebunan akan melakukan okupasi yang akanmendapat perlawanan dari warga,” ujar Pranyoto.

Hunjuk Rasa Tuntut Keberpihakan Terhadap Rakyat di Kabanjahe


NGGUNTUR PURBA. KABANJAHE. Sejak pagi tadi [Selasa 2/10 Pkl. 09.00 Wib] hingga saat berita ini dinaikkan, berlangsung hunjuk rasa di Kabanjahe. Diawali dengan berkumpulnya ratusan penghunjuk rasa di pelataran Gedung DPRD Kabupaten Karo dengan mengatasnamakan Gerakan Masyarakat Peduli Karo (GMPK) dan LSM LIRA.

Dalam orasinya, para penghunjuk rasa menuntut para anggota DPRD Kabupaten Karo melaksanakan tugasnya dengan benar, tidak memihak kepada pemerintah, melainkan kepada rakyat. GMPK menghimbau agar membuat sikap, mendukung sepenuhnya pandangan fraksi di DPRD Karo yang mempertanyakan dasar hukum pengutipan PAD dari sumbangan pihak ke tiga yang bersumber dari pertambangan dolomit. Mereka meminta DPRD Kabupaten Karo menolak nota jawaban Pemkab Karo tentang sumbangan pihak ke tiga yang jelas-jelas melanggar ketentuan yang berlaku di NKRI.
“Terapkan UU No 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah Pasal 28 s/d Pasal 32 terkait dengan diberlakukannya oleh Bupati Karo kebijakan dalam penerimaan sumbangan pihak ke tiga yang menindas masyarakat,” demikian sebagian seruan para penghunjuk rasa.
Dalam hunjuk rasa ini, GMPK turut menampilkan retorika drama tetang hubungan antara pemerintah dengan anggota DPRD yang menunjukkan adanya hubungan mesra antara Pemkab dan DPRD. Usai menampilkan retorika drama ini, beberapa saat kemudian, keadaan sedikit memanas dengan adanya saling kejar-kejaran di dalam kerumunan penghunjuk rasa karena dicurigai ada penyusupan provokator. Keadaan dapat segera ditenangkan oleh pihak kepolisian yang mengawal para penghunjuk rasa sehingga tidak meluas menjadi perkelahian.
Para penghunjuk rasa diterima oleh Onasis Sitepu (Wakil Ketua DPRD Kabupaten Karo) dan Saut Gurning (anggota DPRD). Mereka berjanji akan melaksanakan apa yang diharapkan oleh rakyat. Selanjutnya, mereka menyatakan terburu-buru karena sebentar lagi akan dilaksanakan rapat pengesahan RAPBD dan mengharapkan penghunjuk rasa bisa memakluminya.
Usai menyampaikan aspirasinya di Gedung DPRD, saat ini (Pkl. 13.00 Wib), para penghunjuk rasa berkumpul makan siang. Setelah itu, rencananya mereka akan berjalan menuju Kantor Kejaksaan, Kantor Pengadilan Negeri dan Kantor Bupati Karo untuk tuntutan yang sama, yaitu keberpihakan terhadap rakyat. Sora Sirulo akan terus meliput hunjuk rasa ini dan melaporkan sesegera mungkin perkembangan di lapangan.

Cermin Sora Sirulo Edisi Perdana (Oktober 2006): SEDERHANA SAJA


Editorial: Sederhana Saja
Ita Apulina Tarigan (Pemimpin Redaksi SORA SIRULO)


Pertanian adalah tulang punggung perekonomian Karo. Dinamika perputaran uang dan percepatan pertumbuhan ekonomi di kalangan Karo nyata sekali dipengaruhi oleh keadaan pasar hasil-hasil pertanian dari wilayah-wilayah perkampungan Karo di beberapa kabupaten (Karo, Dairi, Simalungun, Deli Serdang dan Langkat).


Pemimpin Redaksi SORA SIRULO (Ke 2 dari kiri) adalah juga pimpinan Sanggar Seni Sirulo (S3)
Ketika harga jual hasil tani baik, dalam artian harga jual dapat menutup ongkos produksi, maka geliat sektor ril lainnya meningkat dan begitu juga sebaliknya.
            Isu ‘Kabupaten Karo terserang flu burung’ beberapa waktu lalu berimbas terhadap harga jual hasil pertanian dari daerah ini. Konsumen mengindentikkan flu burung dengan pertanian Karo.
            “Sedih kali aku, mak. Orang-orang gak mau beli jeruk kita. Katanya, itu jeruk flu burung,” demikian seorang mahasiswa Karo di Jakarta menuturkan pengamatannya sendiri keadaan pasar hasil pertanian Karo di Jakarta.
            Itu masih jeruk. Belum lagi hasil-hasil pertanian lainnya. Tidak ada yang tidak anjlog dan petanipun menjerit.
            Meski menyakitkan, mereka teruskan juga bertani. “Adi la ku juma, kai banci ban?” demikian biasanya reaksi penduduk pedesaan Karo bila ditanyakan mengapa mereka teruskan juga bertani meski tahu penghasilan dari pertanian sangat tergantung pada keadaan pasar yang susah sekali dikendalikan.
            Saatnya nurani pemerintah diuji. Apakah cukup berdoa saja agar perekonomian rakyat pulih dengan sendirinya tetapi entah kapan, atau akankah ada usaha-usaha jangka pendek dan panjang untuk memulihkan situasi ini? Salah satu pilihan yang kerap didengungkan adalah teknologi pertanian dan pengolahan lanjutan hasil pertanian. Sayangnya, gagasan ini masih sampai di tataran ideal.
            Beberapa waktu lalu sebuah berita foto koran menggambarkan kepedulian pemerintah Cina terhadap sektor pertanian rakyatnya. Pemerintah menganggarkan ratusan milyar untuk pembinaan agar petani mengenal proses lanjutan hasil pertanian dan menggunakan teknologi sederhana. Misalnya, membuat cabe kering.
            Tak perlu dengan teknologi canggih atau rencana muluk-muluk, yang penting petani memperoleh manfaat dan masyarakat lainnya turut merasakan.

Cermin Sora Sirulo Edisi Perdana (2006): TIM TRADISIONAL


Kolom Juara R. Ginting: Tim Tradisional

Sesuatu bawa khayalku berkilas ke selepas siang di tahun 77. Masih duduk di bangku kelas satu SMA diriku saat itu. Berada di tepi lapangan bola Pasar II Titi Rante (Medan) bersama beberapa teman.



Sambil menunggu yang lain datang bermain bola, aku usul untuk bersama membentuk klub bola kaki. Terik masih menyengat kantuk siang. Wajah-wajah mereka bergeming pelan ke arahku. Melirik sipit. Oh, mereka tidak tertarik, pikirku. Lalu, sambil berusaha mencabut padang teguh di sampingku, perlahan kugambarkan sebuah khayal.            Kalau saja kita punya klub, kita mengadakan turnamen sepak bola, kataku. Satu dua wajah berpaling cepat ke arahku. Mengadakan sebuah turnamen sepak bola tingkat kecamatan bukanlah pekerjaan sulit, lanjutku. Beberapa teman mulai memutar duduk berhadapan denganku.
            “Bagaimana tidak sulit?” Tanya seorang yang berusia paling tua. Cukup menyediakan hadiah pertama, ke dua dan tiga. Kita sebar pengumuman dan kutip uang pendaftaran, jawabku. Mereka jadi sangat tertarik. Rupanya, mereka melihat hal-hal yang mendukung rencana. Satu per satu mereka papar alasan mengapa rencana itu memang dapat dilaksanakan. Sekarang, bukannya aku yang harus meyakinkan mereka. Sebaliknya, mereka yang memperjelas operasional rencana untuk dikerjakan bersama.
            Klub terbentuk. Namanya Kestira, Kesebelasan Titi Rante. Turnamen diikuti 15 klub dari seluruh Kec. Medan Baru. Hadiah-hadiah didapat dari sumbangan camat, kepala desa, dan koramil. Setiap sore lapangan menjadi pusat hiburan tua muda, laki perempuan. Selama 2 minggu.Warung-warung musiman berjejer sekeliling lapangan.
            Ada peristiwa kecil yang kami tak bisa lupa dari turnamen itu. Dua letusan senjata api mengejutkan semua orang. Beberapa detik berselang, seorang preman paling disegani di daerah itu digiring polisi dengan tangan terborgol. Mengenang ini, kami sering berucap: “Bos premanpun terlupa sedang buron karena asyik menonton pertandingan.”
            “Kalian tau apa yang membuat Kestira enak ditonton?” Tanya preman itu kepada kami suatu hari, sesaat dilepas dari tahanan Polsekta Medan Baru. “Ikut sertanya beberapa anak putus sekolah di tim kalian. Mereka seperti kawakan sekali bermain bola. Padahal sehari-harinya mereka merokok, begadang dan minum-minum. Bagaikan magic, tim kalian menundukan tim-tim tangguh seperti halnya anak-anak asrama Kavaleri itu,” urainya sambil memesan minuman kami ke Nd Gantang, pemilik warung.
            “Bukan magic, kuncinya sederhana, bang,” kataku menimpali. Rata-rata kita ini bermain bola sejak kecil, kataku mengawali uraian. Kekurangan kita, jarang sekali tergalang dalam tim. Kita sering menggunakan dua gawang, memang. Tapi, lain teman setim hari ini, lain pula esoknya. Kemarin lawan, hari ini kawan, atau sebaliknya. Instink bermain dalam tim tidak terasah. Kelemahan ini dapat diatasi dengan sikap toleran. Tidak terlalu menuntut dan membesar-besarkan kelemahan teman setim, uraiku.
            Kunci ke dua, sambungku, setelah melihatnya serius mendengar. Untuk permainan bola tingkat kampung, banyak orang buang tenaga sia-sia. Terus-terusan bergerak sibuk, tergopoh-gopoh, tanpa fantasi dan imaginasi di kepala. Permainan begini tidak perlu dihadapi rajin. Cukup berdiri di depannya dengan tenang. Sering kali pemain seperti ini terjungkal sendiri meski tak ada yang sentuh. Biarkan pemain/ tim lawan dikalahkan oleh dirinya sendiri. Itu inti kunci ke dua, ujarku sambil menatap wajahnya yang tercenung, seolah sedang membanding antara magic dengan pemahaman akan kenyataan.
             “Itu instruksi yang kau berikan kepada pemain?” Tanyanya mendadak. Gelagapan aku dia sebut instruksi. Aku hanyalah satu diantara 18 pemain dan termasuk golongan termuda di dalam tim. Satu-satunya keistimewaanku adalah posisi penjaga gawang. Untung saja di meja sebelah ada yang menghentak buah catur sambil berseru: Jaga menterindu, kalimbubu!” Serentak perhatian kami beralih ke sana. Tak kujawab pertanyaannya.

                                                           * * *
            Soal tim. Itu yang bawa aku ke kenangan tadi. Semangat mencuat tanjak saat tiba pada ide turnamen, terjun ke panggung sesungguhnya. Tak sekedar berlatih dan berlatih, merancang dan merancang, berpetuah dan petuah. Pemain, yang juga panitia, berkesempatan menunjukan keistimewaan masing-masing, baik dalam bermain maupun sebagai panitia.
            Bukan hanya kami yang menjadikannya sebagai panggung. Diantara 15 klub peserta, hanya dua yang telah berdiri sebelum turnamen, yaitu dari Desa Karang Sari (dekat landasan Polonia) dan anak-anak asrama Kavaleri. Selebihnya, terbentuk setelah menerima selebaran undangan turnamen. Warga sekitar menikmati tontonan dan keramaian atau membuka warung musiman. Anak putus sekolah dan pengangguran dapat menjemput kebanggaannya kembali, menunjukan keunikannya untuk tujuan dan kenikmatan bersama.
            Lahirnya surat kabar kita Sora Sirulo ini dorong aku mengkilasbalik peristiwa itu. Banyak persamaan. Terutama dalam soal ‘kerinduan bukan sekedar merindukan’. Dia adalah endapan rindu panjang masyarakat sekitarnya. Tidak hanya di kota-kota, tapi juga di kampung-kampung dan, bahkan, kalak Karo sebelang-belang dauni.
            Satu lagi persamaannya, ini adalah tim tradisional yang terpelajar. Ada kesamaan dalam spirit melahirkan satu tim yang piawai. Namun, itu pulalah perbedaannya dengan Kestira yang telah bubar. Sora Sirulo hendak melahirkan sebuah group jurnalistik yang piawai dan tim Sora Sirulo diharapkan berkembang terus.

Warga Minta Pemkab Deliserdang Segera Hentikan Galian C Milik Anggota


IMANUEL SITEPU. NAMORAMBESejumlah warga yang bermukim di Desa Batu Gemuk (Kec. Namorambe) meminta Pemkab Deliserdang sesegera mungkin menghentikan aktivitas Galian C milik GJ, salah satu anggota DPRD Deliserdang. Galian C ini telah lama berlangsung. Akibat terus beroperasi hingga saat ini, kerusakan alam yang dihasilkannya telah mencapai tahap yang sangat mengkhawatirkan. Ini dikatakan warga Namombelin, Nehen Sembiring (43), kepada Sora Sirulo di Namorambe [Senin 1/10].
"Pengambilan bahan material Golongan C secara besar-besaransudah melebihi batas. Bahkan, izinnya sudah lama mati. Apalagi pengerukan yang dilakukan sudah mencapai puluhan meter. Artinya, apa yang dilakukan pengusaha tersebut telah melebihi batas kewajaran," kata Nehen.

Dikatakannya lagi, yang juga dibenarkan warga lainya, akibatpengambilan material yang dilakukan tanpa menghiraukan dampaknya terhadap lingkungan, kerusakan yang ditimbulkan sudah sangat mengkhawatirkan hingga membuat berubahnya bentuk alam di desa mereka. "Oleh karena itu, diminta kepada Bapedalda, Dinas Cipta Karya dan Pertambangan, Satpol PP dan Polres Deliserdang segera meyusun tim untuk melakukan penindakan. Bila ada terindikasi merusak lingkungan, supaya diberikan ganjaran dengan tindak pidana serta hukum yang tegas," ujar mereka.

Ka Satpol PP J. Manurung ketika dikonfirmasi Sora Sirulo melalui selularnya belum bisa dikonfirmasi. Ketika dikirim pesan singkat, juga tidak dibalas.

Foto: Galian C milik GJ anggota DPRD Deliserdang di Desa Batu Gemuk.

Polsek Pancurbatu Gulung Pencurian Mobil Antar Provinsi



IMANUEL SITEPU. PANCURBATU. Polsek Pancurbatu yang dipimpin Kanit Reskrim AKP P. Samosir SH dan Kanit Sabhara AKP P. Ketaren SH  bersama sejumlah anggotanya berhasilmenggulung 2 dari 4 tersangka sindikat pencurian spesialis mobil antar provinsi. Keduanya Rico Sianipar (32) warga Jl. Sei Sikambing B Gg. Kelapa, Medan, dan Susan Sotan alias Tony (38) warga Jl. Cemara Asri Gg. Kwini No.35 Jemadi, Kampung Durian, Medan.Mereka diamankan di Bandarbaru (Kec. Sibolangit) [Kamis 27/9 sekitar Pkl. 21.00 Wib].
Informasi diperoleh Sora Sirulo [Jumat 28/9 siang] di Polsek Pancurbatu menyebutkan, kedua tersangka diringkus berkat informasi masyarakat kepada Polsek Pancurbatu. Para tersangka merupakan target (TO) Polsek Pancurbatu yang telah lama menanti kehadiran para pelaku ini. Saat itu, para tersangka sedang melancarkan aksinya seperti biasa. Mereka terlebih dahulu berpura-pura mencarter truk cold diesel BK 9185 CX warna kuning yang dikemudikan korban Roni Lumbangaol (33) warga Kecamatan Sumbul Pegagan, Dairi. Menurut penuturan Roni, saat itu, dirinya mendapat carteran dari salah seorang temannya sesama sopir truk di Dairi. Setelah bertemu, tersangka dan Roni menyepakati harga carteran Rp 1,8 juta. Roni bersama Ranto Haris Maratua (22) warga Desa Juma Raba (Kec.  Sumbul Pegagan, Dairi) kemudian berangkat bersama tersangka Rico menuju Medan untuk membawa barang sembako yang akan dibawa ke lokasi Taman Iman, Dairi.


Bandarbaru, Perempuan, Bier dan Tergeletak 

Tersangka yang merasa aksinya tersebut akan berhasil singgah di karaoke Ananda di Bandarbaru (Kec. Sibolangit) bersama para korban. Di dalam ruang karaoke tersebut, tersangka pun kembali melancarkan aksi keduanya dengan memesan minuman bier yang disuguhkan kepada para korban. Korban yang gembira dengan sajian tersangka menikmati minuman itu didampingi sejumlah wanita penghibur yang juga sudah dipesan tersangka untuk menemani korban. Namun, tanpa sadar, minuman tersebut telah dicampur obat tidur dan tetes mata jenis insto. Akibatnya, kedua korban merasa pening dan tak sadarkan diri. Merasa aksi ke dua aman, tersangka pun beranjak meninggalkan para korban dalam kondisi tak berdaya.

Polisi yang telah mengintai gerak-gerik tersangka langsung menyergap tersangka Riko di salah satu ATM. Tersangka Riko yang memiliki tubuh besar gemuk bertato dengan mata kanan yang rusak itu sempat melawan saat akan diringkus Panit Reskrim Polsek Pancurbatu Aiptu I. Perangin-angin. Mereka sempat bergumul di badan jalan. Namun, berkat kesigapan Aiptu I. Perangin-angin, tersangka berhasil diringkus. Setelah Riko berhasil diamankan Panit reskrim Polsek Pancurbatu, beberapa personil lainnya juga berhasil mengamankan tersangka Tony tanpa perlawanan. Tony adalah warga turunan Tionghoa yang sedang bertelepon di sekitar lokasi hiburan dengan seorang temannya yang diduga kelompok mereka. Namun, akibat kecepatan para tersangka, salah seorang tersangka berinisial A warga Medan yang saat itu berada di lokasi hiburan tersebut berhasil membawa kabur 1 truk cold diesel bernomor polisi BM 8757 PB yang saat itu juga menjadi sasaran para tersangka. Truk ini dikemudikan oleh Lamhot Solin (30) warga Kotacane. Solin telah dibuat mabuk dan tak sadarkan diri oleh para pelaku dengan campuran minuman yang sama diminum oleh korban lainnya. Truk Solin dengan modus dipinjam oleh A untuk membeli nasi bungkus. Namun, tersangka berinisial A tak kunjung kembali ke lokasi hiburan tersebut.

Polisi saat itu sempat kewalahan melakukan pengejaran terhadap tersangka A bersama dengan barang bukti truk Solin. Polisi juga sempat melakukan penghadangan yang dipimpin Kanit Lantas AKP Tony Simanjuntak SH di depan Mapolsek Pancurbatu. Tersangka A kemudian melintas di Jl. Jamin Ginting-Pancurbatu. Namun, upaya pencegatan lagi-lagi gagal. Tersangka A kabur melalui jalan alternatif menuju Medan.    Riko yang berhasil ditemui di Mapolsek Pancurbatu saat itu mengaku dirinya hanya eksekutor di lapangan setelah adanya permintaan dari A selaku pendana sekaligus penjual aksi kejahatan mereka.

“Saya hanya bekerja di lapangan atas perintah A. Dia yang bayar saya setelah berhasil. Uangnya terkadang ditransfer saja. Truk yang kami ambil diantar ke A. Pertemuan kami tergantung A yang atur dimana ketemu. Kadang di Asrama Haji dan kadang di kawasan Tanjungmerawa depan Suzuya itu,” ungkap Riko.

Lanjut Riko: “Terakhir ini kami diantar oleh A ke Dairi dengan mobil Kijang Inova. Sudah itu, dia pulang entah ke mana. Setelah kami ada terget dan dapat, kami hubungi A dan itulah dia datang ke Bandarbaru. Di mana rumahnya, saya tidak tahu. Kami tidak pernah ketemu di rumahnya. Ada lagi yang biayai kawannya orang Jakarta. Tapi, itu juga saya tidak tahu di mana rumahnya. Saya hanya dapat upah.”

Ternyata, dari informasi tersebut, para tersangka hanya mendapat upah dari Rp. 8 - 12 juta. Uangnya habis untuk berfoya-foya. Saat polisi melakukan interogasi terhadap kedua tersangka di tempat terpisah, mereka saling menuding dan buang bola. Namun, polisi yang sempat kelelehan dengan pengakuan para tersangka membuahkan hasil. Akhirnya kedua tersangka mengakui perbuatn nya dan bekerjasama. Disebut-sebut, Tony yang juga memiliki tato di tubuhnya itu juga memiliki hubungan saudara dengan tersangka A yang saat ini menjadi pengejaran polisi.


Penuturan Korban
Sementara itu di Polsek Pancurbatu, korban tertidur tidak berdaya akibat pengaruh minuman yang telah dioplos oleh para tersangka. Malam itu, para korban sama sekali tidak dapat dimintai keterangan. Ketiganya sempat dibawa Kapolsek Pancurbatu Kompol Darwin Sitepu SH ke Puskesmas Pancurbatu untuk mendapat perawatan dan visum. Korban Solin saat di Puskesmas sempat kencing di dalam salah satu ruang inap tanpa sadar. Sedangkan kedua korban lainnya haya terbujur lemas. Hingga Jumat [28/9] sore, korban Solin masih saja belum sadarkan diri bagaikan orang mabuk dan belum juga dapat dimintai keterangan. Apabila diberi pertanyaan, Solin kerap ngelantur perkataannya. Korban Roni dan Ranto sudah sadarkan diri. Walau belum seratus persen, dia sudah dapat dimintai keterangan.






Ketiga korban yang masih lemas di Polsek Pancurbatu


“Kami dicarter dari Dairi. Yang ngasi carteran ini kawan kami sesama sopir. Dia tidak bisa karena ada sewanya. Jadi, kami lah. Janji dia bilang angkat sembako ke Taman Iman dengan harga Rp. 1,8 juta dan dikasi Rp. 1 juta. Itu pun kami terima hanya Rp. 750 ribu. Rp. 250 ribu dipotong sama kawan kami itu.  Itu lah, katanya kita singgah di Bandarbaru minum dulu. Kata dia (pelaku) tidak bisa muat siang, sore aja. Kami diajak singgah. Cewek dipanggil untuk kami. Kami minum. Tiba-tiba kami oyong dan tak sadarkan diri. Cewek aja tidak ada kami apa-apain,” aku Roni dan Ranto.

Pengejaran Barang Bukti

Polisi yang belum puas dengan meringkus dan mengamankan kedua tersangka, malam itu juga terus melakukan pengejaran terhadap A. Sekitar Pkl. 01.00 Wib dinihari, sejumlah anggota Unit Reskrim yang dipimpin Kanit Reskrim AKP P. Samosir SH melakukan penyisiran dan pencarian di sejumlah wilayah kota Medan. Akhirnya mereka berhasil menemukan cold diesel yang dikendarai Solin dikawasan Tanjung Sari (Pkl. 05.30), tepatnya di dekat Kampus UNIKA, Medan. Truk tersebut terparkir tidak bertuan di pinggir jalan. Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata tersangka A tidak ada di lokasi penemuan. Sedangkan kunci kontak dan STNK truk berada di dalam truk tersebut.

Dari pengakuan para tersangka, mereka telah terlibat dalam 31 aksi pencurian dengan modus yang sama di berbagai daerah. Masing-masing di Jambi, Padang, Palembang, Bengkulu, Aceh, Tanjungbalai, Medan, Sibolangit serta Batam. Selain truk, para tersangka juga ada mencuri tiga unit mobil pribadi jenis Avanza, Inova serta satu unit jenis Double Cabine Estarada. Sudah empat kali melancarkan aksi di Sibolangit dengan modus yang sama sebelum tertangkap. Dua diantaranya truk BK 9888 FQ milik Hendra Benyamin Hutagalung warga Samosir dan Avanza BK 10 QC warna hitam milik Rosmina br Nainggolan warga Silangit (Siborong-Borong). Kedua aksi tersebut telah dilaporkan para korban ke Polsek Pancurbatu beberapa bulan lalu. Aksi tersebut juga dilakukan tersangka di TKP yang sama.

Kapolsek Pancurbatu Kompol Darwin Sitepu SH yang berhasil dikonfirmasi oleh Sora Sirulo [Jumat 28/9 siang] di Polsek Pancurbatu membenarkan telah meringkus kedua tersangka bersama dengan 2 unit barang buktinya. “Kita sebelumnya sudah memasang informan di lapangan. Para tersangka rupanya mengulangi aksinya yang sudah berhasil berapa kali itu. Kita ke lapangan dan berhasil mengamankan kedua tersangka. Sedangkan 1 barang buktinya kita temukan di kawasan Tanjungsari, namun pelaku yang sebelumnya membawa kabur truk BM 8757 CX kabur dan saat ini kasus tersebut masih dalam penyidikan kita. Mereka merupakan sindikat spesialis aksi pencurian truk antar provinsi,” ujar Darwin.

Saat ini, kedua tersangka bersama barang bukti 2 unit truk diamankan di Mapolsek Pancurbatu. Mereka dijerat dengan melanggar Pasal 365 KUHPidana dengan ancaman hukuman 12 tahun kurungan penjara.






Salah seorang tersangka di kamar tahanan Polsek Pancurbatu


GEBU Karo Akan Salurkan Beasiswa Kepada 50 Pelajar SD


ITA APULINA/ RANEVI. KABANJAHE. Niat dan usaha yang berkesinambungan selalu berbuah manis. Setelah pertemuan beberapa pengurus Yayasan Gebu Karo dengan  Josua Tarigan (konsultan senior Telkomsel Pusat, Jakarta), Ir. Jonathan Tarigan (Ketua Dewan Pakar Ikatan Ahli Geologi Indonesia/ IAGI Sumut), dr. Yos Toto Kaban, Masa Karya Ginting (Bukit Hijau, Medan) dan Nelman Tarigan dari Perusahaan Produk Coklat CERES  di Warung Ijo Jl. dr. Mansyur, Medan [Kamis 27/0], tadi sore salah seorang simpatisan gerakan GEBU menambah kiprah yayasan ini dengan menawarkan beasiswa kepada 50 pelajar sekolah dasar melalui Yayasan Gebu Karo.


Usaha Bangun Barus menuturkan kepada Sora Sirulo [Sabtu 29/9], salah seorang anggota group Facebook Gebu Karo menyampaikan sumbangannya untuk pelajar yang tidak mampu. “Sepulang dari lapangan, salah seorang sahabat Gebu menelpon saya  dan menyampaikan keinginannya untuk memberikan beasiswa kepada 50 orang pelajar Karo yang tidak mampu dan berprestasi. Ini sangat mengejutkan dan tidak disangka-sangka,” tutur Usaha.Rencananya, bantuan beasiswa  ini akan diberikan kepada siswa sekolah dasar yang duduk di kelas I hingga kelas V. Menurut Usaha, bantuan akan diberikan per tahun sebesar 350 ribu rupiah. “Untuk itu kami menghimbau kepada masyarakat Karo agar memberikan masukan kepada GEBU tentang anak-anak yang membutuhkan bantuan ini. Kriterianya adalah pelajar yang berprestasi dan berasal dari keluarga tidak mampu,” himbau Usaha melalui Sora Sirulo.
Wilayah pemberian beasiswa meliputi Kabupaten Karo dan akan segera direalisasikan pada Oktober yang akan datang. “Secara khusus, para pengurus Gebu Karo mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya kepada donatur yang sudah menyalurkan bantuannya melalui Gebu. Ternyata, satu per satu bermunculan putra/ putri Karo yang tergerak hatinya untuk membantu saudara-saudara kita di kampung halaman. Kami sangat terharu dan bergetar akan semangat ini, seakan lunas sudah keletihan badan dan pikiran,” kata Usaha penuh haru. Senada dengan Usaha Barus, Nova Surya Tarigan yang membidangi Litbang Divisi Pertanian di Yayasan Gebu Karo berkata: “Terharu, merinding dan campur aduk saat aku mendengar berita ini. Terimakasih, Tuhan …” Masih senada, Petrus Sitepu yang merupakan Ketua Dewan Pembina Yayasan Gebu Karo mengungkapkan isi hatinya: “Tuhan selalu memberi jalan. Terimakasih buat Donatur. Semoga semakin banyak donator-donatur lain yang tergerak hatinya untuk memajukan generasi muda Karo.”
Untuk saudara-saudara yang dapat memberikan informasi mengenai pelajar-pelajar yang membutuhkan bantuan silahkan kontak Yayasan Gebu Karo di 0811624655 (Usaha Barus) atau bisa melalui inbox Facebook Usaha Bangun Barus dengan melengkapi data-data sebagai berikut: Nama calon penerima beasiswa, Umur/ tempat/tangal lahir, alamat siswa, kelas (hanya untuk kelas I – V), nama sekolah, nilai rata-rata, pekerjaan orangtua, dan rata-rata penghasilan orangtua per tahun.

Jumat, 28 September 2012

Ke Mana Pariwisata Karo?




Oleh: Swadaya Tarigan ST (Medan)





Kabupaten Karo memiliki banyak tempat wisata; Sipiso-piso, Sibayak, Sinabung, Lau Debuk-debuk, Lau Kawar, Sikulikap, Penatapen, Tahura, Desa Lingga, Desa Dokan, Berastagi, Uruk Tuhan, Taman Resort Simalem, dll. Warga Karo umumnya ramah dan sopan serta memiliki budaya yang menarik bagi wisatawan.
Sektor pariwisata harus ditingkatkan untuk memperluas lapangan kerja sekaligus menambah Pendapatan Asli Daerah. Pertambahan penduduk Kabupaten Karo  dalam 5 tahun ini cukup tinggi, 2,2%/ tahun. Kondisi ini membuat beban perekonomian Kabupaten Karo yang mengandalkan pertanian, semakin berat. Ratio luas lahan pertanian dengan jumlah penduduk makin kecil. Rata-rata kepemilikan lahan saat ini adalah ± 0,8 ha/ KK (2008). Kontribusi pertanian terhadap PDRB Kabupaten Karo adalah 60,1%.Terbatasnya luas lahan pertanian mendorong pengalihan fungsi lahan-lahan kritis dan hutan menjadi lahan pertanian. Ini sudah terjadi di hampir semua kecamatan, terutama Kecamatan Laubaleng dan Kecamatan Mardinding yang mengakibatkan tanah longsor dan banjir.
Dengan kondisi begitu, struktur penopang perekonomian Kabupaten Karo harus secara bertahap diarahkan ke sektor-sektor unggulan non-pertanian; spt. jasa, perdagangan-hotel-restoran, dan pariwisata. Walaupun sektor jasa perdangangan-hotel-restoran berkontribusi terhadap PDRB Kabupaten Karo hingga 24% lebih, warga yang terlibat di dalamnya masih sedikit. Padahal, Kabupaten Karo memiliki banyak potensi untuk dikembangkan
Letak Kabupaten Karo sangat strategis. Dekat dengan ibukota propinsi yang juga merupakan pintu utama mancanegara dan juga lintasan 5 kabupaten menuju Medan (Aceh Tenggara, Dairi, Pakpak Bharat, Simalungun, Toba Samosir). Kabupaten Karo berada di dataran tinggi Bukit Barisan (400-1500 m dpl) dan dikelilingi hutan tropis yang luas sehingga berhawa sejuk dan segar.
Di Kabupaten Karo tersedia hotel-hotel dari kelas melati hingga berbintang taraf internasional. Hotel-hotel berbintang ini dalam beberapa tahun belakangan umumnya penuh setiap akhir pekan dan hari-hari libur. Umumnya pengunjung adalah wisatawan lokal, peserta seminar, rapat-rapat pemerintahan dan para pelaku bisnis.
Pemkab Karo sebelumnya belum maksimal mengembangkan pariwisata di daerah ini. Ke mana pariwisata Karo akan dibawa oleh bupati Karo yang sekarang? Perbaikan infra struktur terutama jalan-jalan kiranya mendapat prioritas di atas semuanya. Selain penting untuk peningkatan pariwisata juga penting untuk sektor-sektor lainnya seperti pertanian dan pergerakan warga.

Lomba Rakit Tradisional di Lau Kawar


NGGUNTUR PURBA. NAMANTERAN. Untuk memajukan pariwisata di wilayahnya, Pemkab Karo mengadakan Lomba Rakit di Danau Lau Kawar (Kec. Namanteran, Kab. Karo) [Minggu 23/9].
Perlombaan rakit tradisional yang diikuti oleh 10 tim mewakili desa-desa yang terletak di sekitar Danau Lau Kawar ini dihadiri oleh 1.500 penonton termasuk unsur-unsur Muspika Kabupaten Karo, Danramil, dan Camat Namanteran Tenang Ukur br Surbakti. Acara dibuka oleh Kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Karo, Dinasti Sitepu.
Camat Namanteran menilai perlombaan ini sangat positip untuk meningkatkan kedatangan wisatawan ke Danau Lau Kawar. Beru Surbakti ini mengharapkan agar Pemkab Karo terus memberi dukungan terhadap kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Lau Kawar untuk meningkatkan pariwisata daerah ini.
Adapun para pemenang lomba rakit tradisional ini adalah Tim Kawar Indah (Juara I), Tim Singgarang-garang (Juara II) dan Tim Kebayaken (Juara III).



Menuju Deklarasi, Gebu Karo akan Merebak ke Seluruh Negeri



SUPRIADI PURBA. KABANJAHE. Pertemuan Gebu Karo yang ke 5 di Sekretariat Komplek Konen, Kabanjahe [Minggu 23/9], dihadiri 18 orang pengurus dan anggota. Pertemuan kali ini  lebih spesial, sehubungan dengan kehadiran akuntan senior/ staf ahli TELKOMSEL, Josua Tarigan SE Ak. dari Jakarta.


Dalam pertemuan itu, Josua Tarigan menyampaikan materi terkait “Stategic Planning Gebu Karo”. Dia mengajak seluruh pengurus dan anggota Gebu Karo membuat inovasi dengan membuka pasar bagi terwujudnya perubahan dalam masyarakat. Salah satunya dengan “Karo Enterprise” melalui strategi perencanaan yang baik sehingga ada kemajuan dalam rangka menciptakan perekonomian sekaligus menciptakan pasar yang baik bagi petani Karo. Dalam kesempatan ini juga, Tarigan mergana ini mengajak seluruh pengurus dan anggota Gebu Karo untuk transparan dan bertanggungjawab terhadap semua hal berkaitan dengan organisasi.“Berikan kepercayaan kepada masyarakat Karo sehingga ada hal yang bisa diambil dan selanjutnya kepercayaan itu akan membuat masyarakat pro aktif dalam memberikan tanggungjawab untuk kemajuan Karo. Saya mengajak seluruhstake holder Gebu Karo memperluas jaringan sehingga masyarakat Karo terbantu melalui jaringan itu, khususnya dalam hal pertanian,” ajaknya.
Petrus Sitepu yang juga pengurus Gebu Karo sangat mendukung adanya tindak lanjut ke depan terkait pembangunan masyarakat. Dia bahkan telah mempersiapkan sebuah pusat pelatihan dalam rangka membangun pertanian dan peternakan sekaligus pendidikan Karo dengan luas lahan 1,5 Ha di Desa Sukadame (Kec. Tigapanah, Kab. Karo).



Gebu Karo Mengudara
Pengurus Gebu Karo lainnya Usaha Barus mengatakan kepada seluruh peserta yang hadir, dalam waktu dekat, Gebu Karo on air di radio yang dapat didengar di seluruh Kabupaten Karo.
“Siaran radio ini bermaksud untuk mensosialisasikan berbagai hal yang berkaitan dengan pertanian Karo melalui dialog interaktif dengan pendengar, khususnya bagi yang ingin tahu apa yang terjadi dengan tanaman yang sedang dikelolanya,” terangnya.
Usaha Barus yang juga Ketua MJI (Masyarakat Jeruk Indonesia) Kabupaten Karo ini menambahkan, momen siaran radio akan dipergunakan untuk mensosilisasikan Gebu Karo sehingga ke depannya masyarakat dapat berkontribusi lewat Gebu Karo.
Junius Karo Sekali yang merupakan Ketua Gebu Karo menyambut positip rencana sosialisasi melalui radio. Namun, dia menambahkan, hendaknya penyuluhan langsung terhadap petani Karo juga dilakukan. Selanjutnya dia mengabarkan bahwa STTK, sebuah kelompok tani Karo, memiliki program yang nantinya akan disosialisasikan sebagai bagian dari program Gebu Karo.
“Penyuluhan lewat radio dan penyuluhan langsung di lapangan akan saling melengkapi sehingga kemajuan dalam hal pertanian ke depannya dapat tercapai,” ujarnya.


Tindak Lanjut
Salah satu bahasan yang tidak kalah pentingnya dalam pertemuan itu adalah pertanyaan bagaimana program Gebu Karo ke depan. Apa yang akan dilaksanakan guna memenuhi visi dan misi serta kaitannya dengan upaya membangun kepercayaan masyarakat Karo sedunia.
Josua Tarigan memberikan masukan bagaimana kalau tahun depan (rencana jangka panjang) Gebu Karo memfasilitasi pertemuan Alumni Karo se dunia di Berastagi atau Kabanjahe. Dia menganjurkan agar pertemuan tersebut sekaligus merupakan acara penggalangan dana, memperkenalkan Gebu Karo dan menjaring kekuatan orang-orang Karo dari lintas profesi.Semua anggota dan pengurus Gebu Karo yang hadir cukup aktif memberikan tanggapan positif terkait masukan ini. Kesimpulannya, direncanakan pada tahun 2013, tepatnya 17 Agustus 2013, dilaksanakan kegiatan Temu Alumni Karo di Tanah Karo.
Selain itu, Gebu Karo juga akan melakukan audiensi dengan ketua DPRD Karo dan Bupati Karo yang merupakan pejabat tertimggi di Kabupaten Karo. Audiensi ini bermaksud untuk memperkenalkan sekaligus meminta dukungan kepada Pemkab Karo pada acara peresmian Gebu Karo dalam waktu dekat. Di saat itu juga akan dideklarasikan visi misi Gebu Karo lewat acara yang akan meriah tapi penuh kesederhanaan. Selanjutnya melalui pertemuan ini juga diharapkan Gebu Karo semakin bersemangat untuk menghimpun kekuatan seluruh masyarakat Karo di dunia agar audiensi serupa bisa dilakukan di Medan, Simalungun, Deliserdang, Dairi dan daerah-daerah lainnya.




Geo Park Toba
Dalam rapat terakhir, Jonathan Tarigan tidak bisa hadir karena berhalangan dan ada keperluan yang sangat penting. Namun demikian, dia menitipkan pesan kepada pengurus Gebu Karo untuk membicarakan Geo Park Toba yang sedang dalam pembahasan untuk menjadi kawasan Geo Park International dimana Tanah Karo termasuk di dalamnya.
Pengurus Gebu menyepakati untuk bertemu dengan geolog kondang ini dalam waktu dekat guna membahas Geo Park, khususnya berkenaan dengan peran Gebu Karo dalam Geo Park Toba. Berkaitan dengan ini, Wakil Ketua Gebu Karo Patris Ginting menyampaikan bahwa Unesco sudah menetapkan Bali sebagai salh satu kawasan Geo Park di dunia. Dia mengingatkan, Danau Toba merupakan salah satu keajaiban dunia yang memiliki keindahan dan daya tarik luar biasa yang juga sedang dalam pembahasan panitia Geo Park International.
Kesan optimis dan bersemangat sangat terasa dalam pertemuan pengurus Gebu Karo kali ini.

Asyik Minum di Cafe, Security PMTOH Diparang


IMANUEL SITEPU. MEDAN. Lagi asyik minum di salah satu cafe yang terletak di Jl. Flamboyan Raya, Medan, M Yatim (26) warga Jl. Ngumban Surbakti, Pondok Kelapa, Medan, dihajar menggunakan senjata tajam oleh 15 pria [Minggu 23/9 sekira Pkl. 03.00 Wib]. Akibatnya, korban mengalami luka di sekujur tubuh. kejadian inipun langsung dilaporkan korban ke Polsek Delitua [Minggu 23/9 sore].
Informasi yang dihimpun oleh Sora Sirulo di Mapolsekta Delitua [Minggu 23/9 sore] saat korban membuat pengaduan menyebutkan, saat itu, korban yang sehari-harinya berprofesi sebagai security PMTOH sedang asyik minum di cafe bersama temannya bernama Eko warga Jl. Perjuangan Setia Budi, Medan. Tiba-tiba, korban didatangi oleh 15 orang yang salah satu pelakunya berinisial W. Mereka mengajak korban untuk keluar. Korban yang tak tahu apa-apa, mengikuti kehendak kelimabelas pelaku. Setelah sampai di parkiran, korban dituduh memukuli teman mereka yang disebut-sebut bernama Jaka. Korban tak mengakui kalau telah memukul Jaka. Tak terima dengan pengakuan korban, para pelaku ini langsung memukul dan menghajar korban dengan senjata tajam.
Beruntung korban dapat melarikan diri ke semak-semak dekat cafe tempatnya minum. "Saya berhasil melarikan diri ke semak-semak. Paginya baru saya keluar. Saat itu saya minta tolong sama Satpam perumahan dekat cafe itu. Satpam itu kemudian mengantar saya ke RS Adam Malik untuk dirawat," terang korban di Mapolsekta Delitua. Ditambahkannya, dari 15 orang yang menghajarnya cuma satu yang dia kenal yaitu W. "Saya kenal W dari teman saya. Nggak tau salah saya apa sehingga mereka menyerang saya," ujarnya sembari menahan sakit di bibir dan tangan.

Kapolsek Delitua Kompol S.P. Sinulingga melalui Kanit Reskrim AKP S. Sembiring saat dikonfirmasi membenarkan telah menerima laporan dari korban. "Saat ini, kita masih meminta keterangan dari korban untuk menuntaskan kasusnya," terangnya.

Foto: Korban saat membuat pengaduan ke Mapolsek Delitua.

Dirjen Hortikultura Kementrian Pertanian RI Meninjau Ladang Jeruk Tanjungbarus


Dirjen Mendengar Serius Penjelasan Ir. Usaha B. Barus Tentang Hama Lalat Buah


ITA APULINA/ RANEVI. BARUSJAHE. Dirjen Hortultura Kementrian Pertanian RI (Dr. Ir. Hasanuddin Ibrahim)  beserta rombongan mengadakan kunjungan mendadak ke Desa Tanjungbarus (Kec. Barusjahe, Kab. Karo) untuk mengamati dari dekat ladang pertanian jeruk warga desa itu [Selasa 25/9 Pkl. 13.00- 14.00). Ikut dalam rombongannya adalah Anggota DPD RI asal Sumut, Parlindungan Purba. Rombongan ini diterima oleh Kepala Desa Tanjungbarus, Camat Barusjahe dan beberapa petugas PPL Kabupaten Karo. Dalam kunjungan itu, Dirjen Hortikultura bersama rombongan menyempatkan diri berbincang-bincang dengan sekitar 50 petani jeruk dan mendengarkan penjelasan mengenai serangan hama Lalat Buah (Bactocera spp.) dari Ir. Usaha B. Barus yang merupakan Ketua Umum MJI (Masyarakat Jeruk Indonesia) Sumut.

Lalat Buah
“Serangan hama Lalat Buah pada buah jeruk telah merugikan petani Kabupaten Karo sebanyak Rp.1 Trilyun dengan tingkat serangan mencapai 60 - 95% sejak 2011 hingga 2012 ini,” demikian Usaha  Barus memulai paparannya kepada Dirjen dan anggota DPD RI beserta rombongan yang mendengar dengan sangat serius.
Selanjutnya Usaha Barus yang juga Ketua Dewan Pengawas Gebu Karo ini menyampaikan bahwasanya pemerintah terkesan tidak serius menangani hama lalat buah di Kabupaten Karo. “Hama lalat buah harus dibasmi hingga tuntas, tidak bisa setengah-setengah, agar lingkaran hidupnya putus total,” jelas Usaha yang kemudian memperkenalkan rencana yang telah dia canangkan bersama timnya dalam upaya pembasmian hama lalat buah hingga tuntas. “Untuk itu, kami Yayasan Gebu Karo bekerjasama dengan Assosiasi Petani Gabungan MJI dan STTK akan mengajukan proposal untuk mendapat dana pembuatan Ramuan Pestisida Organik. Pestisida Organik ini sudah teruji bisa melindungi serangan hama lalat buah,” tuturnya. Dirjen dan Parlindungan Purba merespon sangat positip ketika Usaha Bangun mengingatkan kiranya bantuan alat dan bahan perangkap Lalat Buah untuk Petani Jeruk Karo sangat didambakan.





Basmi Tuntas
Usaha Barus juga memohon Parlindungan Purba agar mendesak Bupati Karo untuk membuat Perda tentang pengumpulan buah jeruk yang terinfeksi dan memasukkannya ke dalam kantong plastik kedap udara. Demikian juga dia mengharapkan agar pemasangan perangkap hama lalat buah ini diadakan seminggu sekali selama setahun berturut-turut secara massal di seluruh sentra kebun jeruk di daerah ini. “Barang siapa yang tidak melaksanakannya agar dikenakan sanksi atau denda,” katanya dan juga disepakati oleh Parlindungan Purba.
Usai mengamati ladang jeruk dan berbincang-bincang dengan para petani jeruk, Dirjen beserta rombongan melunjutkan perjalanan menuju Desa Tongging (Kec. Merek, Kab. Karo) untuk melihat dari dekat lahan pertanian bawang milik warga setempat dan berbincang-bincang dengan para petaninya. Kunjungan Dirjen Holtikultura Kementrian Pertanian RI beserta rombongan ini diliput oleh berbagai media nasional dan daerah, baik cetak maupun elektronik.

 

Seminar Sehari Mengenang Rakoetta S. Brahmana


DANA TARIGAN. KABANJAHE. Pagi tadi [Kamis 27/9 Pkl. 08.00 Wib] telah dibuka seminar sehari Mengenang Rakoetta S. Brahmana di Gedung PPWG GBKP Zentrum, Kabanjahe dengan beberapa Kata Sambutan dan penampilan kesenian tradisional Karo. Sebentar lagi, sekitar Pkl. 14.00, usai acara Makan Siang, seminar ini menampilkan pembicara Juara R. Ginting yang berbicara melalui webcame dari Leiden (Nederland). Di bawah ini, kami muat makalah Juara R. Ginting tersebut.
Selamat membaca!



Peranan Rakoetta S. Brahmana dalam Pembentukan Kabupaten Karo
Oleh: Juara R. Ginting


PENDAHULUAN
Masing-masing mantan Bupati Kabupaten Karo memiliki kelebihan dan kekurangan, tapi, menurut hemat saya, Kabupaten Karo di masa kepemimpinan Rakoetta Sembiring Brahmana memiliki keistimewaan tersendiri dalam perjalanan sejarah suku Karo.
Di masa kepemimpinan Rakoetta, wilayah Kabupaten Karo meliputi Kabupaten Karo sekarang ini ditambah beberapa kecamatan di luarnya yang sekarang menjadi bagian Kabupaten Deliserdang dan Kabupaten Simalungun. Ini merupakan monumen sejarah yang mengingatkan Taneh Karo tidak terbatas pada wilayah administrasi Kabupaten Karo sekarang.
Memang, wilayah Kabupaten Karo di masa kepemimpinan Rakoetta belum mencakup keseluruhan wilayah Taneh Karo. Langkat Hulu, Kota Medan bagian Selatan, dan Taneh Pinem adalah juga termasuk bagian Taneh Karo yang tidak dimasukkan sebagai bagian wilayah Kabupaten Karo di masa kepemimpinan Rakoetta. Akan tetapi, pernah adanya di suatu masa Kabupaten Karo mencakup wilayah lebih luas dari Kabupaten Karo sekarang ini sangat penting dijadikan sebagai salah satu tonggak sejarah Karo. Tidak hanya sebagai pengingat di masa-masa mendatang, tapi juga dapat menjadi argumentasi konkrit bila saja di belakang hari kita membutuhkan bukti-bukti bahwa Taneh Karo memang mencakup luas di beberapa kabupaten bertetangga ini.
Kai pe labo gelgel, belum tentu peristiwa masa lalu tidak menjadi peristiwa masa depan. Lihat saja pemekaran-pemekaran wilayah administrasi pemerintahan di Indonesia sekarang ini, termasuk daerah-daerah tetangga Kabupaten Karo. Umumnya pemekaran-pemekaran itu mengikuti, atau setidaknya mendekatkan diri kepada, klasifikasi wilayah tradisional mereka di masa Pre Kolonial atau di masa Kolonial atau Pasca Kolonial. 
Dalam kesempatan ini, saya hendak menjelaskan secara ringkas konsep Taneh Karo agar kita menyadari pentingnya posisi Kabupaten Karo bukan hanya sebagai wilayah administrasi pemerintahan, tapi juga demi keberadaan masyarakat dan budaya Karo.


TANEH KARO
Suatu kali, saya dan beberapa teman mengadakan perjalanan dengan sebuah Jeep dari Kutarayat (Kabupaten Karo) ke Telagah (Kabupaten Langkat) dan dari Telagah ke Medan. Beberapa hari kemudian kami menyusuri jalan dari Medan lewat Tuntungan, Pasar 10, Gunung Merlawan, Tandak Benua dan keluarnya di Perkemahan Pramuka Bandar Baru. Beberapa hari setelah perjalanan itu, salah seorang mahasiswa Karo yang ikut dalam rombongan kami berkata: “Saya tidak membayangkan sebelumnya bila kampung-kampung yang kita lintasi kemarin itu betul-betul kampung Karo.”
Dalam percakapan selanjutnya, si mahasiswa Karo itu menjelaskan dianya selama ini membayangkan adanya orang-orang Karo berdiam di Langkat Hulu dan Deli Hulu sebagai hasil dari sebuah proses migrasi orang-orang Karo dari wilayah Kabupaten Karo sekarang ini ke daerah-daerah sekitarnya. Seperti kebanyakan generasi muda Karo sekarang ini, dia menganggap wilayah Kabupaten Karo sekarang ini sebagai wilayah asli orang Karo dan selebihnya bukan Taneh Karo yang asli.
Tidak heran bila perjuangan mempertegas bahwa pendiri Kota Medan adalah orang Karo dan situs Benteng Putri Hijau di Delitua adalah bagian dari sejarah Karo kurang disemangati oleh orang-orang Karo sendiri. Salah satu penyebab kurangnya semangat itu adalah karena umumnya orang-orang Karo sekarang ini kurang merasa terhubung dengan sejarah masa lalu Kota Medan dan Benteng Putri Hijau. Rendahnya rasa terhubung itu adalah karena kebutaan terhadap sejarah wilayah Taneh Karo Simalem. Bayangkan bagaimana di masa depan bila sekarang saja kita sudah menjadi awam mengenai Taneh Karo.
Pada tahun 1823, ketika Jhon Anderson mengunjungi rumahnya Sultan Deli di kampung Labuhan (Labuhan Deli dan sekarang berada di Kecamatan Medan Labuhan), dia melihat sebuah giriten di gerbang masuk rumah Sultan. Sultan Deli menjelaskan kepada Jhon Anderson bahwa itu tempat penyimpanan tulang belulang nenek moyangnya yang orang Karo. Bayangkan, kampung Labuhan terletak di antara pusat Kota Medan dengan Belawan. Ketika generasi muda Karo terlahir dan kemudian menginjak remaja melihat Istana Maimun di Kampung Baru (Medan) sekarang akan sangat sulit menerima penjelasan kalau Istana Maimun itu dibangun oleh Belanda. Bisa jadi, mereka malahan menganggap kita mengada-ada bila kita mengatakan lahan tempat berdirinya Istana Maimun itu adalah bagian dari Urung Suka Piring yang berpusat di Delitua.
Bayangkan lagi, saat Jhon Anderson mengunjungi kampung Sunggal di tahun 1823 itu, dia menemukan sekitar 50 rumah adat Karo di sana. Sunggal adalah pusat Urung Sabernaman panteken Surbakti mergana. Urung Sabernaman berbatasan dengan Kejuruan Hamparan Perak di sebalah Utara dan berbatasan dengan Urung Telu Kuru di sebelah Selatan. Urung Telu Kuru berpusat di Lingga yang sekarang masuk wilayah Kecamatan Simpangempat (Kabupaten Karo). Bila kita periksa kampung-kampung yang berada di wilayah Urung Telu Kuru, hanya satu kampung yang didirikan merga Lingga, yaitu kampung Lingga itu sendiri. Selebihnya adalah kampung-kampung merga Surbakti (antara lain: Nangbelawan, Surbakti,  Gajah, Doulu, Raja Berneh, Jaranguda), Ginting Suka (Lingga Julu), Kacaribu (Kacaribu) dan Kaban (Kandibata). Hanya 2 kampung Sinulingga di Kabupaten Karo sekarang ini, yaitu Lingga dan Bintangmeriah (Kecamatan Kutabuluh). Di pihak lain, kita temukan begitu banyaknya kampung-kampung Sinulingga di wilayah Urung Sabernaman yang sekarang masuk ke wilayah Kabupaten Deliserdang. Mulai dari Gunung Merlawan yang masuk wilayah Kecamatan Kutalimbaru hingga ke beberapa kampung dekat Tanjung Anom yang masuk ke Kecamatan Pancurbatu.
Menarik untuk mempertanyakan hubungan antara Urung Sabernaman yang merupakan urung merga Surbakti dengan Urung Telu Kuru yang merupakan urung merga Sinulingga. Secara awam, kita menemukan kejanggalan mengapa Urung Telu Kuru menjadiurungnya Sinulingga padahal hanya satu kampung Lingga yang didirikan Sinulingga di wilayah itu. Tidak demikian halnya bila kita tinjau secara Antropologis. Kiranya terjadi sebuah hubungan “pertukaran” (exchange) antara urung-urung di Karo Jahe dengan urung-urung di Karo Gugung. Pemimpin di Urung Telu Kuru adalah Sinulingga sedangkan rakyatnya kebanyakan Surbakti, dan pemimpin di Urung Sabernaman adalah Surbakti sedangkan rakyatnya kebanyakan Sinulingga.
Ulasan lebih lengkap tentang hubungan Karo Gugung dan Karo Jahe dapat dibaca di 2 tulisan saya yang lain: 1. “Kolom Juara R. Ginting: Perlajangen” di http://www.sorasirulo.net/1_1_1297_kolom-juara-r.-ginting-perlajangen.html dan 2. “Inter-group Relation in North Sumatra” di Tribal Community in Malay World: Historical, Cultural and Social Perpectives. Edited by Geoffrey Benjamin & Cynthia Chou: Institute of Southeast Asian Studies, Singapore (2002): halaman 384 - 400.
Inti dari ulasan di atas adalah, tanah ulayat orang Karo tidak terbatas pada wilayah Kabupaten Karo sekarang, tapi meluas ke beberapa bagian dari wilayah Kabupaten-kabupaten Langkat, Simalungun dan Dairi serta Kota Medan.


 
MASA KOLONIAL
Pernah suatu ketika, pemerintah kolonial Belanda telah membentuk Residen Tapanuli dan Residen Pantai Timur Sumatera. Diantara kedua residen ini terdapat sebuah wilayah yang disebut Zelfstandig Bataklanden (Tanah-tanah Batak Merdeka) karena tidak termasuk ke residen manapun. Tahun 1904, pemerintah kolonial memasukkan wilayah ini ke Residen Pantai Timur Sumatra dengan nama “Afdeling Simalungun en Karolanden” dipimpin oleh seorang controleur yang berkantor di Seribudolok. Afdeling ini nantinya dimekarkan menjadi 2 afdeling: Simalungunlanden dan Karolanden. Pemerintah Jepang mengambil alih sistim pemerintahan ini tanpa merubahnya sedikitpun kecuali menempatkan pemimpin pilihannya dengan jabatan berbahasa Jepang.
Akibat pembagian wilayah administrasi pemerintahan semasa kolonial, Tanah Karo semakin dipojokkan sehingga orang-orang beranggapan bahwa Tanah Karo hanya terbatas pada Dataran Tinggi Karo (Karo Gugung) minus Taneh Pinem yang sudah sebelumnya dimasukkan ke wilayah Residen Tapanuli.


PERANAN RAKOETTA
Pembagian wilayah administrasi pemerintahan sejak awal-awalnya hingga sekarang ternyata tidak pernah sesuai dengan konsep pre-kolonial Taneh Karo yang meliputi Karo Gugung dan Karo Jahe meski perubahan maupun pemekaran telah terjadi beberapa kali. Di sinilah letak pentingnya Kabupaten Karo pimpinan Rakoetta Sembiring Brahmana yang terbentuk pada 13 Maret 1946 dijadikan sebagai Hari Jadi Kabupaten Karo.
Kabupaten Karo pimpinan Rakoetta itu berada diantara 2 konsep Taneh Karo yang berbeda. Di satu sisi, ada pandangan bahwa Taneh Karo terbatas pada wilayah Kabupaten Karo sekarang ini. Di sisi lain, ada konsep bahwa Taneh Karo meliputi wilayah-wilayah Kabupaten Karo sekarang, Langkat Hulu, Kota Medan bagian Selatan, Deli Hulu, Serdang Hulu, beberapa kecamatan yang dimekarkan dari Kecamatan Silima Kuta (Kabupaten Simalungun), serta beberapa kecamatan yang dimekarkan dari Kecamatan Taneh Pinem dan Kecamatan Tigalingga (Kabupaten Dairi).
Kabupaten Karo pimpinan Rakoetta meliputi Kabupaten Karo sekarang ini ditambah Kecamatan Silima Kuta yang sekarang masuk Kabupaten Simalungun dan beberapa kecamatan yang sekarang masuk ke Kabupaten Deliserdang (Kecamatan-kecamatan Kutalimbaru, Pancurbatu, Namorambe, Sibiru-biru dan Sibolangit). Ingat, sebagian wilayah Kota Medan sekarang ini di masa kepemimpinan Rakoetta masuk ke wilayah Kabupaten Karo karena menjadi bagian Kecamatan Pancurbatu dan Kecamatan Namorambe pada saat itu.
Meski wilayah Kabupaten Karo di masa kepemimpinan Rakoetta belum lengkap mewakili pre-kolonial Taneh Karo, menjadikan hari jadinya menjadi hari jadi Kabupaten Karo mengingatkan kita dan generasi-generasi mendatang akan konsep Taneh Karo yang meliputi Karo Gugung dan Karo Jahe.

Walikota Bandung Hadiri Peresmian "Kerukunan Masyarakat Karo Parahyangan Bandung"



SUS GURKY. BANDUNG. Kerukunan Masyarakat Karo Parahyangan Bandung (KMKP) telah terbentuk yang peresmiannya dilaksanakan Jumat 21 September 2012 di Istana Kana, Kawaluyaan Bandung.

Acara peresmian ini dihadiri oleh Walikota Bandung Dada Rosada, Camat Buahbatu, Lurah Jatisari, Sekretaris Dewan, Bupati Karo yang diwakili oleh Sekda Makmur Ginting, Sesepuh masyarakat Karo, Mayjend Osaka Sembiring Meliala, H.M. Kerja Sitepu SH dan warga Karo yang tinggal di Bandung berjumlah sekitar seribuan orang.
Peresmian dilakukan secara simbolis dengan penyerahan Stempel KMKP oleh Sekda Karo kepada Ir. Gembira Perangin-angin (Ketua Umum) yang didampingi oleh Sampe Tuah Ginting (Penasehat), Johanes K. Sitepu SH MHKes (Sekretaris Umum) dan drs. H. Surya MN Sembiring (Bendahara Umum).
Acara hiburan ditampilkan Pagelaran Seni Budaya Karo dengan perkolong-kolong Samuel Sembiring dan Susi br Karo.

Seminar Sehari Mengenai Hari Jadi Kabupaten Karo


DANA TARIGAN. KABANJAHE. Seminar sehari memperingati Bupati pertama Kabupaten Karo Rakoetta S. Brahmana akan digelar di gedung PPWG GBKP Zentrum Kabanjahe pada tanggal 27 September 2012. Acara dibuka pada Pkl. 08.00 Wib dan ditutup Pkl. 18.00 wib. Adapun thema dari seminar sehari ini adalah "Peran Rakoetta S. Brahmana dalam Pembentukan Kabupaten Karo dan penetapan hari jadi Pemerintahan Kabupaten Karo”. Demikian disampaikan oleh Ketua Panitia, Sastra Sinulingga, kepada Sora Sirulo [Rabu 26/9] di Kabanjahe.
Selanjutnya Sastra Sinulingga menuturkan, adapun nara sumber yang akan menjadi pembicara pada seminar sehari besok adalah: Prof. Hiras L. Tobing tentang “Pergerakan kebangsaan, Nasionalisme dan Patriotisme”; Rahmat Purba SE MS tentang “Perjuangan Rakoetta S. Brahmana Menetukan Pemerintahan Kabupaten Berdiri Sendiri”, drs. Wara Sinuhaji MSi tentang “Sejarah Perkembangan Kabupaten Karo” dan Dr. (Cand) Juara R. Ginting MA tentang “Peranan Rakoetta S. Brahmana dalam Pembentukan Kabupaten Karo”.
Sastra menambahkan, pembicara Juara R. Ginting telah mengirim makalahnya kepada panitia, tapi dia akan berbicara lewat webcame dengan menggunakan Skype dari Leiden (Nederland) yang akan dipancarkan ke layar lebar sehingga semua peserta dapat mendengar dan berdialog dengannya. Seminar sehari ini akan dilengkapi dengan selingan-selingan seni dan sastra yang ditampilkan oleh kelompok-kelompok sanggar seni, vocal group maupun perorangan.
Nancy Meinintha Brahmana yang merupakan cucu dari Rakoetta S. Brahmana dan sekaligus sebagai Penasehat acara seminar sehari ini mengatakan, seminar ini bertujuan sebagai pendorong untuk pemerintah agar menindaklanjuti penabalan Jalan Rakoetta S. Brahmana yang rencananya terletak di Jalan Kabanjahe ke arah Kotacane. Adapun penabalan nama jalan ini adalah sebuah penghargaan dan sekaligus untuk mengenang Rakoetta sebagai Bupati Pertama Kabupaten Karo dan mantan Pejuang Kemerdekaan Indonesia. Selain itu, Menurut Nancy, seminar dimaksudkan menjadi wacana untuk membedah hari jadi Kabupaten Karo yang hingga kini masih simpang siur.
Diantara undangan yang diharapkan menghadiri acara seminar ini Pemkab Karo, Kepala Daerah dari 10 Kabupaten di Sumatera Utara (Deliserdang, Binjai, Langkat, Dairi, Pakpak Bharat, Pematang Siantar, Simalungun, Asahan, Tanjungbalai dan Medan), para Tokoh Pejuang, Akademisi, Ormas Kepemudaan, Lintas Agama, mahasiswa, Partai Politik, Kepolisian, TNI, dll.



Kabupaten Karo di Masa Rakoetta
Wilayah Kabupaten Karo pernah mencakup wilayah Kabupaten Karo sekarang, Kecamatan Silimakuta (sekarang masuk wilayah Kabupaten Simalungun) dan beberapa kecamatan (Pancurbatu, Kutalimbaru, Sibolangit. Delitua dan Biru-biru) yang sekarang masuk wilayah Kabupaten Deliserdang.
“Ini terjadi di masa kepemimpinan Rakoetta S. Brahmana sebagai Bupati Kabupaten Karo. Oleh karena itu, pembentukan Kabupaten Karo di saat Rakoetta sebagai bupatinya penting dijadikan sebagai salah satu tonggak sejarah Karo. Meskipun tanah ulayat Karo yang disebut Taneh Karo termasuk juga meliputi Langkat Hulu dan Kota Medan serta Taneh Pinem, Tigalingga dan Gunung Sutember di Kabupaten Dairi, wilayah Kabupaten Karo semasa kepemimpinan Rakoetta penting untuk mengingatkan generasi muda bahwa Taneh Karo tidak hanya sebatas Kabupaten Karo sekarang,” demikian disampaikan oleh Juara R. Ginting saat ditanyakan lewat facebook mengenai isi makalahnya.