Rabu, 27 Februari 2013

Menyusuri Lekuk Keindahan Tanah KaroMenyusuri Lekuk Keindahan Tanah Karo


Menyusuri Lekuk Keindahan Tanah KaroDamai dan selalu bersahabat dengan sekitar, itulah nilai-nilai yang dianut  masyarakat Karo yang melekat dengan suasana dataran tinggi Karo. Diapit oleh dua gunung berapi yang masih aktif,  Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung menjadikan Tanah Karo sebagai tempat yang cocok, untuk berdamai dengan alam, melepas penat dan mengisi baterai jiwa. Kesegaran markisa yang melegenda, kehangatan lau Debuk-debuk, tajamnya Sipiso-piso, serta megahnya salah satu bangunan tertinggi di dunia, akan menemani libur akhir pekan anda kali ini.
JUMAT. Majua-jua. Orang Jakarte punya Puncak, Urang Bandung punya Lembang. Dan tak mau ketinggalan, Berastagi menjadi kebanggaan orang Medan. Nikmati secara langsung keelokan salah satu kota termahal di monopoli nasional. Berada di ketinggian 1.220 meter di atas permukaan laut, terbayang dong bagaimana sejuknya. Belum lagi, kota yang terletak 70 km arah selatan Kota Medan ini menjadi gudangnya buah-buahan serta sayur mayur yang super segar.
Pepohonan hijau ikut berliuk di sepanjang jalan. Tak lupa jejeran kedai yang menjajakan jagung bakar, menghiasi perjalanan Anda selama 2 jam melintasi jalan raya Medan-Berastagi.
Berendam sejenak untuk memulai akhir pekan Anda? Hmm… tampak menjadi ide yang menyenangkan yah. Putar kemudi Anda menuju pemandian air hangat di Desa Semangat Gunung. Kepulan asap belerang, menunggu untuk memanjakan diri Anda. Hangatnya air belerang sungguh relaksasi yang tak dapat diungkapkan dengan kata-kata.
Tak jauh dari Desa Semangat Gunung, Anda bisa menemukan pemandian air hangat tradisional  yang konon telah ada sejak berpuluh-puluh tahun yang lalu. Desa Lau Debuk-debuk. Kolam ini memang jauh lebih sepi dibanding kolam-kolam yang sudah berfasilitas modern.
Namun, menurut cerita, kolam pemandian air hangat yang ada di kawasan wisata pemandian ini hanya sepi di saat-saat tertentu saja, karena pada hari-hari yang dianggap keramat, pemandian ini dipenuhi para peziarah. Lihat saja jejak yang ditinggalkan para peziarah. Sesajen, jeruk dan sampah sampo. Oh ya, jeruk dipakai saat memandikan raga, bagi yang meyakininya bisa membersihkan tubuh dari sakit dan ruh jahat. Boleh percaya , boleh tidak. Awal liburan yang menarik bukan??
Lanjutkan perjalanan Anda menuju Bukit Merek, Kabupaten Karo, tepat di ketinggian 1500 meter dari permukaan laut, Taman Simalem  dibangun di atas tebing yang cukup curam, dengan visi agrowisata dunia. Pantas saja jika 206 hektar lahan resort, tertata hijau nan apik.
Anda ingin menyaksikan karunia Tuhan yang membentang luas, taman Simalem tempatnya.
Berkebun, tracking, hingga outbond bisa Anda habiskan di taman wisata ini. Bagi Anda yang ingin lebih dekat dengan alam, taman simalem resort  menyuguhkan alternatif penginapan yang nyaman meski berada di rerimbunan hutan.
SABTU. Berkeliling taman buah sudah biasa, saatnya Anda berkeliling taman labirin untuk mencoba peruntungan Anda. Sejak diresmikan pada tahun 2011, taman labirin dengan panjang setengah kilometer ini, memiliki tiga level ini menjadi salah satu permainan wajib kunjung wisatawan. Walaupun agak bingung tapi seruuu!
Dan begitu Anda tiba di ujung taman. Rasanya benar-benar seperti berakit-rakit ke hulu, berenang-renang ke tepian. Bernyasar-nyasar dahulu, bersenang-senang kemudian. Hutan, gunung, kebun, Danau Toba, seakan menyatu tanpa sekat pemisah. Bak pesona negeri di atas awan.
Ada satu lagi permainan baru di taman Simalem Resort, yang rugi jika tak Anda coba. Bermain golf, di antara hamparan kebun teh dan indahnya Danau Toba. Jangan khawatir jika tidak membawa stick golf, pihak Simalem menyediakannya untuk Anda. Lapangan golf seluas 16 hektar ini memiliki 9 hole.
Kunjungan Anda ke Simalem Resort, tak akan lengkap tanpa bertandang ke Pearl of Lake Toba Plaza. Dari ketinggian 500 meter, Danau Toba nan cantik, terhampar bak permadani yang akan memanjakan Anda. Di spot inii, berfoto narsis adalah wajib hukumnya.
MINGGU. Dikaruniai dengan cuaca yang sejuk, membuat Berastagi menjadi daerah potensial untuk bercocok tanam, terutama berkebun. Buah markisa, jeruk manis ,dan terong belanda menjadi buah wajib icip di brastagi. Banyak orang Indonesia yang lari dari pajak, tapi di Berastagi, beraneka ragam wisatawan baik lokal dan wisatawan, memburu pajak di daerah Berastagi. Yah, pajak sebutannya. Yang berarti pasar.
Terletak di daerah tugu perjuangan, Berastagi, pajak buah ini  menjual berbagai buah-buahan khas Karo. Satu hal yang  perlu diperhatikan saat Anda berbelanja adalah harga buah bisa ditawar tapi menawarnya jangan kejam-kejam, karena harga buah di sini relatif sangat murah.
Nah bagi Anda bagi pecinta bangunan-bangunan megah, sasarkan diri Anda di Taman Alam Lumbini, Desa Tongkoh. Anda akan disambut oleh bangunan emas nan megah yang merupakan stupa tertinggi di Indonesia, Replika Pagoda Shwedagon. Pagoda ini juga merupakan replica kedua tertinggi di AsiaTenggara.
Sejak tahun 2010, replika Pagoda Shwedagon ini menjadi incaran wisatawan yang berkunjung ke Berastagi. Bagian dalam pagoda ini juga tak kalah megah. Terdapat empat rupang Buddha utama, terpampang di bagian tengah ruangan. Varada Mudra, Dhammacakka Mudra, Bhumiphassa Mudra, dan Jhana mudra. Belum lagi 8choanteng yang berisi 1118 stupa Buddha. Di langit-langit pagoda tergantung dengan cantik lentera-lentera.
Di dalam pagoda, Anda bisa membeli lilin-lilin untuk berdoa. Bagi Anda yang bukan penganut Buddha pun, juga boleh berdoa kepada Yang Maha Kuasa.
Usai mengagumi megahnya Shwedagon, saatnya menyambangi air terjun Sipiso-piso. Hiiii dari namanya seram yah, tajam bak pisau. Hmm… kira-kira setajam apa  yah…
Untuk dapat mencapai lokasi air terjun, Anda harus melawan lelah menaklukkan ribuan anak tangga yang cukup terjal dan curam. Tapi jangan khawatir, cantiknya danau toba akan senantiasa menemani Anda dalam perjalanan. Perjalanan panjang pun tak akan terasa begitu melelahkan. Jangan lupa untuk membawa minuman, agar anda tidak mengalami dehidrasi yah.
Suara air terjun dan sejuknya perbukitan, menggenapi lelah Anda yang terbayar lunas. Dijamin Anda akan akan malas untuk beranjak pulang. Walaupun lelah, tak boleh lupa untuk bergaya yah

Rumah Berdikari


Oleh: Sjahrazad Monchu Alamsjah


Penulis tinggal di Melbourne, Australia
Penulis tinggal di Melbourne, Australia
Michael Mobbs, seorang pengacara lingkungan tinggal. di rumah tua di daerah padat Sydney. Tahun 1996 dia mulai merenovasi bangunan yg sudah berumur 100 tahunan berupa rumah dua lantai dan hanya memiliki pekarangan yang sangat terbatas. Dengan dana $48,000 dia membangun sistem daur ulang pemanfaatan tenaga surya, air dan air limbah agar dia terbebas dari kewajiban membayar kepada negara untuk mendapat sarana tersebut. Bukan itu saja, setiap pojok lahan sempit yang tersedia dia olah menjadi tempat sayur mayur untuk hidup sehari-hari beserta satu pojok untuk seekor ayam yang menghasilkan telor.Dana di atas bila dikonversi ke rupiah memang mahal, tapi sebenarnya tidak begitu. Di Australia biaya terbesar adalah upah kerja yang bisa mencapai 60% dari total biaya. Harga bahan bahan pada umumnya relatif murah bila dibandingkan dengan pendapatan rata-rata. Karena itu, kebanyakan mereka selalu mengerjakan sendiri dalam hal pemeliharaan rumah.
Masalahnya semua pekerjaan yang bersifat instalasi tidak boleh dikerjakan sendiri harus dilakukan oleh tukang yang memiliki sertifikasi, karena ini terkait dengan perijinan dan asuransi. Upah tukang ledeng sekitar $150 per jam walau sekedar diminta datang untuk memeriksa rumah. Income mereka pertahun melebihi income orang berdasi yang bekerja dikantoran.
Apa yang dilakukan si oom Michael ini, bisa menjadi inspirasi bagi para insinyur, arsitek muda, termasuk institusi profesi di Indonesia. Indonesia yang berada di wilayah tropis dengan energi matahari berlimpah, curah hujan yang tinggi dan tanah subur, yang tidak butuh pengolahan khusus, tentunya bisa berbuat banyak selama memiliki inovasi dan kemauan ke arah sana; yakni mengembangkan hunian daur ulang yang terjangkau bagi kalangan menengah.
Sebagai individu, lupakan idealisme membantu kaum miskin, itu gunanya ada negara. Idealisme itu juga hanya slogan para penyiar agama, konon orang miskin disayang Tuhan. Adalah aneh bin ajaib mayoritas orang miskin di dunia, walau disayang Tuhan, yang jelas hidupnya menderita dari tahun ke tahun.
Yang kudu kita lakukan adalah mengembangkan kesadaran komunitas kalangan menengah agar menjadi komunitas mandiri. Paling tidak, bagaimana 40% hingga 60% biaya sehari-hari bisa diperoleh dari daur ulang yang tersedia berlimpah di tanah tercinta ini, Indonesia. Kalau kalangan menengah ini senang hidupnya, secara otomatis kalangan yang miskin akan mendapatkan imbas karena roda ekonomi tetap bisa berputar.
Di sekolah, kita tidak dididik untuk mandiri melainkan menjadi budak sistem. Karena itu, kita tidak melihat bahwa dinding gedek itu bagus. Selain murah, gedek itu juga simbolik dengan kemiskinan. Paradigma itu yang kudu dibuang ke tempat sampah. Gedek itu mampu mengalirkan angin sepoi-sepoi dan yang namanya sepoi- sepoi itu selalu nyaman. Sebenarnya ada berjuta contoh bagaimana kita sebenarnya terperangkap di dalam sebuah ‘nilai’. Padahal, untuk keluar dari sana, hanya membutuhkan sedikit perubahan cara pandang. Sangat sederhana sebetulnya.
Salah satu yang bisa mulai dikembangkan adalah air kencing. Dari tradisi spiritual jadul konon di air urine ini sebenarnya ada rahasia terpendam, energi murni yang bermanfaat. Tapi jangan dikira air urine ini bagus langsung ditenggak, tidak begitu. Perlu ada proses daur ulang sehingga energi murni itu bisa disaring, baru siap untuk dikonsumsi.
Ada banyak yang bisa dibagi ke kita semua. Sebagai penutup, sekali lagi, dua hal yang kita perlu perjuangkan. Pertama, memaksa pemerintah menurunkan harga listrik dan internet di kampung kampong. Hanya dengan cara ini swadaya masyarakat dalam penyebaran edukasi dan informasi bisa berkembang. Ke dua, seperti saran kelompok Anonymous di seluruh dunia, kita harus menolak setiap rencana pemerintah manapun di dunia untuk melakukan sensor serta mengatur informasi di Internet. Internet adalah negara bagi kita semua, mahluk manusia yang merdeka.